Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Pemprov Papua Dorong Kolaborasi Wujudkan Papua Harmonis

oleh -136 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jayapura – Pimpinan Wilayah Aisyiyah Provinsi Papua Gelar resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah sebagai bentuk dukungan dalam memperkuat silaturahmi, dakwah kemanusiaan, dan harmoni kehidupan antarumat beragama di Tanah Papua. Kegiatan berlangsung di Hotel Horison Kotaraja, Jayapura, Sabtu (23/5/2026).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua melalui Staf Ahli Gubernur Papua Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Origenes Kambuaya, menyebut Milad ke-109 ‘Aisyiyah menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang organisasi perempuan Islam tersebut dalam memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara, khususnya dalam pemberdayaan perempuan dan pembangunan sosial kemasyarakatan.

Dalam sambutan Gubernur Papua yang dibacakannya, Origenes menegaskan tema Milad tahun ini, “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, sangat relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.

“Milad ke-109 ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam yang telah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara,” ujar Origenes Kambuaya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader ‘Aisyiyah yang dinilai konsisten hadir di tengah masyarakat sebagai pelopor perubahan serta penjaga nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh kader ‘Aisyiyah yang selama ini konsisten hadir di tengah masyarakat sebagai pelopor perubahan serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan,” katanya.

Menurutnya, Papua yang majemuk membutuhkan peran seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi perempuan seperti ‘Aisyiyah, dalam memperkuat persatuan dan harmonisasi sosial sejalan dengan visi “Papua Cerah”.
(Cerdas, Sejahtera, Harmonis).

“Transformasi Papua tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui pembangunan karakter, pendidikan keluarga, pemberdayaan perempuan, dan penguatan nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Origenes menegaskan perempuan memiliki posisi strategis sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Karena itu, kontribusi ‘Aisyiyah dalam membangun perempuan Papua yang cerdas, mandiri, dan berakhlak mulia dinilai menjadi investasi besar bagi masa depan Papua.

Ia juga mengajak seluruh kader ‘Aisyiyah untuk terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dalam menciptakan Papua yang damai dan harmonis.

“Teruslah menjadi pelopor dakwah yang menyejukkan, memperluas gerakan sosial kemasyarakatan, memperkuat pendidikan keluarga, serta menghadirkan pelayanan hingga ke akar rumput,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Origenes turut menjelaskan kondisi keuangan daerah yang saat ini mengalami keterbatasan akibat pemekaran wilayah dan kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.

“Dulu saat Papua masih satu provinsi, dana hibah untuk lembaga keagamaan dapat dialokasikan lebih besar. Namun setelah pemekaran beberapa provinsi baru di Tanah Papua, kemampuan anggaran hibah menjadi jauh lebih terbatas,” jelasnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut tidak hanya kemudian berdampak pada organisasi Muhammadiyah, tetapi juga hampir seluruh lembaga keagamaan di Papua. Ini merespon harapan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua terkait harapan dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua bagi organisasi sosial kemasyarakatan keagamaan.

“Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur tetap memiliki komitmen besar membangun Papua dan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar ada dukungan tambahan bagi pembangunan di Tanah Papua,” katanya.

Di akhir sambutannya, Origenes menyampaikan ucapan selamat kepada keluarga besar ‘Aisyiyah.

“Selamat Milad ke-109 kepada seluruh keluarga besar ‘Aisyiyah. Semoga ‘Aisyiyah terus menjadi organisasi perempuan yang maju dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan Papua dan Indonesia,” tutupnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Papua, Aplena Betty Yochu, S.H., M.Si., mengatakan pemerintah terus mendorong kolaborasi dengan berbagai organisasi perempuan untuk menangani persoalan kesehatan di Papua seperti malaria, Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan Tuberkulosis (TBC).

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Persoalan malaria, HIV, dan TBC di Papua hanya bisa ditangani melalui kolaborasi dan kerja sama semua pihak, termasuk organisasi perempuan,” ujar Aplena.

Ia mengapresiasi peran ‘Aisyiyah yang dinilai konsisten menjalankan program pemberdayaan perempuan dan kemanusiaan.

“Meski dengan keterbatasan anggaran, kami tetap optimistis karena didukung organisasi perempuan besar seperti ‘Aisyiyah. Pemerintah Provinsi Papua juga akan mendampingi ‘Aisyiyah sebagai salah satu lembaga penyedia layanan pemberdayaan perempuan di Papua,” katanya.

Aplena menegaskan perempuan memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam membangun keluarga tangguh dan menciptakan perdamaian sosial. Dakwah kemanusiaan, menurutnya, harus diwujudkan melalui aksi nyata tanpa membedakan suku, ras, etnis, maupun agama.

Senada dengan itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua, Subhan Hafidz Massa, menegaskan usia lebih dari satu abad menjadi bukti ketangguhan organisasi perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dalam menjalankan dakwah dan pengabdian kemanusiaan.

“Usia 109 tahun adalah perjalanan yang luar biasa. ‘Aisyiyah telah melewati berbagai tantangan dan rintangan, bahkan lebih kokoh dari pohon jati yang tumbuh puluhan tahun,” ujarnya.

Menurutnya, perjalanan panjang ‘Aisyiyah dipenuhi karya dan pengabdian perempuan-perempuan yang mengikhlaskan hidupnya untuk mencari rida Allah SWT.

“Mereka tidak hanya mengabdi untuk diri sendiri dan keluarganya, tetapi juga terus bergerak menyebarkan kebaikan kepada masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan tema Milad tentang memperkokoh dakwah kemanusiaan dan mewujudkan perdamaian sangat relevan dengan kondisi saat ini di tengah berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia maupun dunia internasional.

“Kita sering mendengar istilah damai, termasuk Papua sebagai tanah damai. Namun kenyataannya, perdamaian masih menjadi harapan yang terus diperjuangkan,” ujarnya.

Subhan menekankan pentingnya kejujuran sebagai dasar terciptanya perdamaian dan kehidupan sosial yang harmonis.

“Dalam Islam, ucapan dan perbuatan harus selaras. Kejujuran adalah ibadah yang sangat besar nilainya. Jika ucapan kita jujur, maka Allah akan membimbing perilaku kita menjadi baik,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebohongan dapat memicu perselisihan hingga hilangnya nyawa manusia yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT.

“Satu nyawa manusia sangat berharga. Bahkan dalam ajaran Islam disebutkan bahwa membunuh satu orang seakan membunuh seluruh manusia, dan menyelamatkan satu nyawa seakan menyelamatkan seluruh umat manusia,” jelasnya.

Subhan mengapresiasi peran perempuan ‘Aisyiyah di Papua yang dinilai terus menjadi cahaya dakwah dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

“Tetaplah semangat dan jangan pernah lelah. Perempuan-perempuan ‘Aisyiyah adalah sosok yang Allah hadirkan untuk menebarkan kasih sayang dan kebaikan di Tanah Papua,” ujarnya.

Ia menambahkan peran ibu sangat besar dalam membentuk karakter generasi masa depan.

“Anak-anak belajar dari apa yang diucapkan dan dicontohkan ibunya. Generasi hebat lahir dari ibu-ibu yang luar biasa,” katanya.

Subhan juga mendorong seluruh kader ‘Aisyiyah untuk terus belajar dan meningkatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam menjalankan dakwah dan pengabdian sosial.

“Jangan pernah berhenti belajar. Dengan ilmu, kita bisa terus menghadirkan manfaat dan menjadi pelopor kebaikan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Menutup sambutannya, ia mendoakan agar ‘Aisyiyah terus diberi kekuatan dan keberkahan dalam menjalankan perjuangannya.

“Semoga Allah SWT memberikan nikmat iman, kesehatan, kesejahteraan, serta melahirkan generasi-generasi yang hebat untuk masa depan umat dan bangsa,” tutupnya.

Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Papua, Atira Madu, mengatakan peringatan Milad ke-109 ‘Aisyiyah mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”.

Menurutnya, tema tersebut relevan dengan kondisi bangsa dan masyarakat saat ini serta menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran strategis ‘Aisyiyah dalam membangun peradaban yang adil dan damai melalui dakwah kemanusiaan.

“Dakwah kemanusiaan merupakan inti gerakan ‘Aisyiyah sejak awal berdiri. Dakwah ini mengedepankan kasih sayang, toleransi, dan perdamaian di tengah keberagaman agama, budaya, dan pandangan hidup masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan semangat rahmatan lil ‘alamin menjadi landasan ‘Aisyiyah dalam menghadirkan kehidupan sosial yang harmonis, saling menghargai, dan mampu menjaga perdamaian secara damai.

“Atas dasar itu, ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam harus terus menjadi pembawa rahmat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan universal,” katanya.

Atira menegaskan dakwah ‘Aisyiyah tidak hanya berupa ceramah, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang menyejukkan, memberdayakan, dan mendamaikan masyarakat.

“Dakwah sesungguhnya adalah menghadirkan kebaikan, menolong yang lemah, mencerdaskan umat, menguatkan keluarga, menjaga martabat perempuan, membina generasi, serta membangun kehidupan masyarakat yang damai dan berkemajuan,” ucapnya.

Ia menambahkan, selama 109 tahun ‘Aisyiyah telah berkiprah di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, hingga pembinaan keluarga dan penguatan nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.

“Perempuan bukan hanya pendamping, tetapi juga penggerak perubahan dan pembangunan peradaban,” katanya.

Di Papua, lanjut Atira, ‘Aisyiyah telah hadir lebih dari 40 tahun dan terus memperluas jangkauan dakwah seiring pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB).

Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Papua juga telah membentuk kepengurusan wilayah baru di Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan sebagai langkah strategis memperkuat konsolidasi organisasi dan pelayanan sosial keumatan.

Saat ini, struktur dakwah ‘Aisyiyah Papua terdiri atas enam pimpinan daerah, sembilan pimpinan cabang, dan dua pimpinan ranting. Di bidang pendidikan, ‘Aisyiyah Papua memiliki 20 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan taman kanak-kanak.

“Kami berharap ke depan ‘Aisyiyah Papua dapat memiliki amal usaha pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi,” ujarnya.

Selain itu, berbagai program juga dijalankan, di antaranya pembinaan keluarga sakinah, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi perempuan, kaderisasi, hingga bantuan hukum bagi perempuan dan anak.

Menurut Atira, program-program tersebut merupakan bentuk nyata dakwah bil hal atau dakwah melalui tindakan dan pelayanan kepada masyarakat.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam membangun perdamaian.

“Perdamaian bukan hanya tidak adanya konflik, tetapi hadirnya keadilan, kasih sayang, saling menghormati, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” tuturnya.

Ketua Panitia Milad ‘Aisyiyah, Deswita, M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah bertepatan dengan 112 Hijriah mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”. Tema tersebut, menurutnya, mengandung pesan yang sangat mendalam tentang pentingnya peran dakwah kemanusiaan dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis, khususnya di Tanah Papua.

Deswita mengatakan, selama ini ‘Aisyiyah terus berkiprah melalui berbagai kegiatan sosial dan dakwah kemasyarakatan sebagai bentuk nyata kontribusi organisasi dalam menebarkan nilai-nilai perdamaian dan persaudaraan di tengah masyarakat.

“‘Aisyiyah terus menebarkan dakwah kemanusiaan melalui berbagai kegiatan sosial sebagai upaya menghadirkan perdamaian, khususnya di Papua yang memiliki tantangan sosial dan konflik yang cukup kompleks,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi Papua yang majemuk dan penuh tantangan menjadi ruang pengabdian tersendiri bagi ‘Aisyiyah untuk terus mempererat persaudaraan serta memperluas dakwah Islam yang menyejukkan dan membawa kemaslahatan umat.

“Di Papua, ‘Aisyiyah memiliki tantangan yang sangat besar dalam mewujudkan perdamaian, menjalin persaudaraan, dan memperluas kiprah dakwah Islam yang membawa kesejukan bagi masyarakat,” katanya.

Deswita berharap momentum Milad ke-109 menjadi penguat semangat seluruh kader ‘Aisyiyah untuk terus menjalankan dakwah dan kegiatan sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

“Harapan kami, ‘Aisyiyah terus haus akan kebaikan, terus menghadirkan kegiatan yang mendatangkan kemaslahatan umat demi terwujudnya perdamaian,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa usia lebih dari satu abad tidak mengurangi semangat perjuangan kader ‘Aisyiyah dalam mengembangkan dakwah dan pelayanan sosial kemasyarakatan.

“Walaupun usia ‘Aisyiyah bukan lagi muda, semangat perjuangannya tetap seperti usia 20 tahun. Semangat ‘Aisyiyah harus terus jaya dalam memperjuangkan dakwah dan perdamaian,” pungkasnya. (Asrul)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.