Jayapura — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua (Kanwil Kemenag Papua), Klemens Taran, menghadiri Resepsi Penutupan Sinode Keuskupan Jayapura Tahun 2026 yang digelar di Istora Papua Bangkit, Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, Minggu (8/2/2026). Kehadiran Kakanwil merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan sekaligus wujud komitmen Kementerian Agama (Kemenag) dalam memperkuat sinergi dan kerja sama antara pemerintah dan lembaga keagamaan di Tanah Papua.
Uskup Keuskupan Jayapura, Monsinyur (Mgr.) Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Perayaan Misa Syukur Penutupan Sinode Keuskupan Jayapura dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas seluruh rangkaian proses sinode yang telah berlangsung sejak tahun 2004 hingga 2026.
Perayaan Misa Syukur tersebut diikuti hampir 7.000 umat Katolik dari berbagai wilayah di Provinsi Papua. Umat yang hadir berasal dari wilayah Kabupaten Jayapura , sembilan paroki di sekitar Jayapura, enam paroki di Kabupaten Keerom, Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, serta wilayah Dekenat Pegunungan Tengah yang meliputi Wamena dan Lembah Baliem. Secara keseluruhan, umat berasal dari tiga dekenat, yakni Dekenat Jayapura, Dekenat Keerom, dan Dekenat Pegunungan Tengah. Perayaan ini juga dihadiri sekitar 80 pastor dan 50 suster.
Mgr. Yanuarius menjelaskan bahwa Sinode Keuskupan Jayapura dilaksanakan melalui proses berjenjang yang dimulai dari tingkat komunitas basis gerejani kecil yang beranggotakan sekitar 30 hingga 40 orang. Hasil pembahasan di tingkat komunitas tersebut kemudian dibawa ke tingkat paroki sebagai bagian dari pendalaman iman, dilanjutkan ke tingkat dekenat, hingga akhirnya dirumuskan di tingkat keuskupan oleh tim perumus sinode.
“Seluruh hasil pembahasan dari setiap tingkatan tersebut dirumuskan sebagai dasar penetapan arah dan kebijakan pastoral Keuskupan Jayapura,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama Sinode Keuskupan Jayapura adalah untuk merumuskan dan menetapkan visi serta misi Keuskupan Jayapura untuk 15 tahun ke depan. Visi yang ditetapkan adalah mewujudkan Gereja yang misioner, mandiri, partisipatif, solider, dan terlibat aktif di tengah masyarakat. Visi tersebut menekankan dimensi perutusan, yakni mendorong umat untuk terlibat aktif dalam mewartakan Injil serta menghadirkan pelayanan nyata di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Puji Tuhan, melalui resepsi penutupan ini kami telah merumuskan visi dan misi Gereja untuk 15 tahun ke depan. Harapannya, umat Katolik dapat menjadi pewarta Injil dan terus melayani sesama dalam terang kasih Tuhan Yesus Kristus,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Mgr. Yanuarius juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Sinode Keuskupan Jayapura, baik dari unsur pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, maupun pemuda. Ia menegaskan komitmen Keuskupan Jayapura untuk terus membangun kerja sama dan dialog lintas agama, termasuk dengan umat Hindu, Buddha, dan Islam, sebagai wujud kehidupan yang rukun, saling menghormati, dan bekerja sama dalam membangun Papua yang damai.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Papua, Pendeta Klemens Taran, S.Ag., menegaskan bahwa Sinode Keuskupan Jayapura merupakan bagian dari tradisi gerejawi yang telah lama hidup dalam Gereja Katolik. Sinode menjadi forum resmi Gereja untuk melakukan refleksi, evaluasi, serta merumuskan arah kebijakan pastoral dan program kerja kepemimpinan dalam periode tertentu.
“Dalam tradisi gerejawi, sidang-sidang di lingkup Gereja merupakan hal yang lazim. Agenda utamanya adalah mengevaluasi program kerja dalam satu periode kepemimpinan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan sinode di bawah kepemimpinan Uskup Yanuarius yang merupakan putra daerah sekaligus uskup pertama yang berasal dari Tanah Papua. Menurutnya, kepemimpinan tersebut menghadirkan semangat baru serta berbagai terobosan dalam pembaruan dan penguatan peran Gereja Katolik di tengah masyarakat Papua. Lebih lanjut, Klemens Taran menyampaikan bahwa pada momentum penutupan sinode tersebut juga dilakukan peluncuran Universitas Katolik pertama di Tanah Papua sebagai wujud komitmen Gereja Katolik dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.
“Peluncuran Universitas Katolik pertama di Tanah Papua ini merupakan langkah strategis dalam pengembangan sumber daya manusia di Provinsi Papua,”
ungkapnya.
Ia berharap hasil Sinode Keuskupan Jayapura dapat terus disosialisasikan kepada seluruh umat agar dipahami dan disambut sebagai komitmen bersama. Dukungan serupa juga diharapkan terhadap kehadiran Universitas Katolik, khususnya dalam proses pendaftaran penerimaan mahasiswa baru pada lima program studi yang baru diluncurkan, di antaranya Program Studi Farmasi dan Teknik Sipil, yang dinilai strategis dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Papua.
Selaras dengan hal tersebut, Klemens Taran menegaskan bahwa Kanwil Kemenag Papua yang membawahi 28 kabupaten di empat provinsi, yakni Provinsi Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan, berkomitmen memberikan dukungan terhadap pengembangan pendidikan keagamaan di Papua. Dukungan tersebut dilaksanakan melalui Bidang Bimbingan Masyarakat Katolik (Bimas Katolik) sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Agama.
“Sebagai instansi pemerintah yang membidangi urusan keagamaan, Kanwil Kemenag Papua melalui Bidang Bimas Katolik akan terus berkomitmen memberikan dukungan terhadap seluruh proses pendidikan sesuai dengan tugas dan fungsi yang diemban,” pungkasnya
Selain itu Ketua Panitia sinode, Elpius Hugi menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan ini yang pelaksanaannya di mulai dari tanggal 2 Februari hingga hari ini tanggal 8 Februari acara puncak resepsi penutupan sinode keuskupan jayapura, ada berbagai kendala dalam kegiatan ini semunya dianggap hal yang biasa terjadi dalan setiap kegiatan Iven.
“saya sebagai Ketua Panitia Penyelenggara mengucap syukur kepada Tuhan acara pada hari ini bisa terlaksana , sekalipun ada kekurangan dan kendala, itu sesuat yang wajar di setiap kegiatan.”
Ungkapnya Selain megucapkan rasa syukur, Elpius Hugi mengucapkan Terimaksi kepada pihak- pihak yang telah membantu hingga terselenggaranya kegiatan ini baik itu dari pihak pemerintah daerah, Toko agama , Toko Adat, toko perempuan dan toko pemuda kiranya koolaborasi ini terus berjalan sehingga menjadikan Papua sebagai miniaturnya Indonesia ini prestasi yang luar bias dan jarang di temukan di Indonesia.
“saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Uskup yang kedua saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Gubernur Papua dan juga Gubernur Papua pegunungan, Bupati jayawijaya, Bupati keerom, Bupati kabupate Jayapura, dan juga Walikota Jayapura dan seluruh pihak-pihak yang trlibat.”Tutupnya. (ASRUL)










