Kala Hutan Dikorbankan, Pelajaran dari Bencana Aceh dan Peringatan bagi Kabupaten Kuningan

oleh -202 Dilihat
oleh
banner 468x60

Gelombang banjir dan longsor yang melanda Aceh dalam beberapa tahun terakhir seharusnya menjadi alarm besar bagi kita semua. Bencana tersebut tidak hadir tiba-tiba—ia muncul dari rangkaian persoalan ekologis yang menumpuk, terutama kerusakan hutan dan melemahnya daya serap lingkungan. Ketika tutupan hutan menyusut, air hujan yang seharusnya ditahan akar-akar pepohonan berubah menjadi aliran deras yang menghantam pemukiman. Aceh menjadi contoh nyata bagaimana degradasi kawasan resapan air dapat berubah menjadi ancaman bencana berskala besar.

Fenomena di Aceh penting dicermati, bukan hanya sebagai berita duka, tetapi sebagai pelajaran. Banyak daerah di Indonesia berada dalam situasi yang sama: hutan ditebang, pegunungan dibuka, air hujan kehilangan tempat bersinggah. Sayangnya, pola ini juga mulai terlihat di Kabupaten Kuningan. Dalam beberapa tahun terakhir, geliat pembangunan destinasi wisata alam di Kuningan berkembang pesat. Banyak kawasan yang dulunya berfungsi sebagai hutan atau daerah resapan kini diubah menjadi tempat wisata, café, spot swafoto, hingga vila komersial.

Secara ekonomi, geliat wisata tentu membawa manfaat. Tetapi jika pembangunan dilakukan tanpa kendali, ia dapat menjadi ancaman jangka panjang. Hutan bukan sekadar pemandangan hijau untuk dipotret wisatawan. Ia berfungsi sebagai pengatur tata air, penahan longsor, penyimpan cadangan air tanah, serta penyeimbang ekosistem. Ketika pohon-pohon hilang dan permukaan tanah ditutup bangunan, kemampuan alam menahan curah hujan pun menurun. Di titik inilah risiko bencana mulai bertumbuh.

Kuningan adalah kabupaten yang dikelilingi kawasan pegunungan seperti Ciremai dan banyak bukit curam. Secara geografis, daerah dengan topografi seperti ini sangat bergantung pada kelestarian hutan. Sedikit saja terjadi pembukaan lahan tanpa perhitungan, potensi longsor dan banjir bandang langsung meningkat. Beberapa wilayah di Kuningan yang dulu jarang mengalami banjir kini mulai menghadapi genangan saat hujan intens. Ini bukan kebetulan—ini indikator jelas bahwa resapan air perlahan hilang.

Sebagai kabupaten yang sering membanggakan identitas “Kuningan Asri,” sudah waktunya pemerintah dan masyarakat melakukan evaluasi serius. Pariwisata boleh berkembang, tetapi harus selaras dengan konservasi. Wisata seharusnya menjadi cara memperkuat fungsi hutan, bukan malah merusaknya. Konsep eco-wisata sebenarnya memberikan solusi: membangun tanpa menebang, menikmati alam sambil melestarikannya. Namun praktik ini belum sepenuhnya menjadi standar di banyak titik pengembangan wisata.

Pelajaran dari Aceh menegaskan satu hal penting: bencana bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan alam. Jika hutan terus ditekan, maka air akan mencari jalannya sendiri—dan sering kali jalan itu adalah pemukiman dan infrastruktur yang kita bangun tanpa memikirkan risikonya. Aceh sudah merasakan akibatnya. Kuningan masih punya kesempatan untuk mencegah hal serupa terjadi.

Kini adalah momen yang tepat untuk kembali meninjau setiap izin pembukaan wisata, menegakkan aturan zonasi kawasan lindung, serta memastikan hutan kembali dilihat sebagai kebutuhan dasar. Tanpa itu, pembangunan wisata hanya akan menjadi kenyamanan jangka pendek yang mengorbankan keselamatan jangka panjang.

Kita tidak perlu menunggu bencana sebesar Aceh untuk sadar. Alam sesungguhnya sudah memberi tanda—tinggal apakah kita mau mendengarkannya. (Admin)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.